Insight
Setiap mau nonton film, pasti ada label kecil di awal seperti, SU, 13+, 17+, atau 21+. Kebanyakan orang cuma lewat aja tanpa mikir. Atau malah nganggep itu cuma formalitas basa-basi sebelum film dimulai.
Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang nentuin angka-angka itu? Dan berdasarkan apa penentuannya? Ternyata, di balik label sederhana itu ada sistem yang lebih rumit dari yang dikira.
Ternyata Ada Lembaga Khusus yang Nentuin Ini
Di Indonesia, klasifikasi usia ini ditetapkan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009. Ada empat kategori yang berlaku, yaitu SU (Semua Umur), 13+, 17+, dan 21+. SU dirancang bebas dari unsur kekerasan, seksual, maupun horor, sementara 13+ ditujukan buat konten dengan konflik ringan dan tema sosial yang masih terkendali.
Kategori 17+ boleh memuat kekerasan atau tema dewasa, tapi tetap dalam batas edukatif. Sementara 21+ khusus buat konten paling eksplisit, baik dari sisi kekerasan maupun tema sensitif lainnya. Setiap kategori juga punya kode warna biar gampang dikenali sekilas seperti, hijau untuk SU, kuning untuk 13+, merah untuk 17+, dan hitam untuk 21+.
Contohnya Kayak Gini
Sistem ini sendiri mengalami penambahan kategori sebelum tahun 2014. Kategorinya cuma ada tiga yaitu, Semua Umur, Remaja, dan Dewasa. Baru sejak 1 September 2014, pembagiannya dipecah jadi empat kategori yang lebih spesifik seperti yang kita kenal sekarang.
Menariknya, sistem ini juga masih dianggap punya celah. Ada semacam "lompatan" psikologis yang belum terakomodasi buat remaja usia 14-16 tahun, misalkan kategori 13+ dianggap terlalu kekanak-kanakan buat mereka, sementara 17+ udah kelewat dewasa temanya. Belum lagi soal platform streaming yang sering pakai sistem rating sendiri, yang gak selalu sejalan sama standar LSF yang berlaku di bioskop dan televisi.
Kenapa Ini Penting Buat Kamu Tahu
Rating ini bukan cuma soal "boleh nonton atau enggak". Itu cerminan gimana sebuah film dinilai dari sisi kekerasan, konten seksual, dan tema yang diangkat di dalamnya. Semakin paham sistem ini, semakin gampang juga memilih tontonan yang sesuai buat diri sendiri atau orang di sekitar.
Buat yang mau kerja di industri film atau broadcasting, paham sistem ini penting. Ini yang nentuin gimana sebuah konten harus dikemas dan disesuaikan sama target penontonnya sejak dari tahap perencanaan. Bukan cuma ditempel begitu saja di akhir produksi.
Label kecil yang sering diabaikan itu ternyata punya sejarah dan pertimbangan yang gak sesimpel kelihatannya, meski sistemnya sendiri masih terus dievaluasi. Kalau dipikir-pikir, pernah gak kamu nonton film yang menurutmu rating-nya kurang pas sama isinya? Menurutmu, harusnya masuk kategori yang mana?