Program Televisi/Film
Waktu belajar di kelas Estetika & Tata Artistik, salah satu tugasnya adalah bikin sketsa set produksi non-drama pakai SketchUp. Mulai dari posisi lighting, sudut kamera, properti, sampai alat operasional lainnya. Awalnya kelihatan kayak cuma soal "naruh barang di tempat yang pas", tapi ternyata semua itu dipikirin dari awal, bukan asal taruh.
Ini juga kerasa waktu kelompok bikin program non-drama sendiri dari nol, mulai dari nentuin nama program, tema, sampai "wajah" keseluruhan programnya. Semua elemen kecil itu ternyata punya alasan. Kalau dipikir-pikir, kalau semua elemen visual di set aja dipikirin sedetail itu, jangan-jangan warna di film yang kita tonton juga gak asal, ya?
Warna Itu Bahasa, Bukan Sekadar Estetika
Color grading, warna kostum, sampai warna dinding di sebuah scene itu keputusan sadar. Sama kayak waktu mikirin kenapa lighting ditaruh di titik tertentu buat bikin mood yang pas. Semua elemen visual itu dipilih dengan tujuan, bukan kebetulan.
Warna bisa nentuin gimana penonton "merasakan" sebuah adegan. Bahkan sebelum mereka sadar kenapa perasaan itu muncul. Sebelum otak sempat mikir "kenapa ya adegan ini kerasa berat/hangat/mencekam", warnanya udah duluan "ngomong" ke perasaan.
Contohnya Kayak Gini
Inside Out salah satu contoh paling jelas soal ini. Setiap emosi direpresentasikan lewat warna spesifik, Joy identik kuning cerah, Sadness biru, Anger merah. Bukan kebetulan tiap karakter dapat warna itu, melainkan itu cara film "ngomong" ke penonton soal emosi tanpa perlu dialog panjang.
Ini nyambung balik ke pengalaman di kelas, waktu desain program non-drama sendiri, nama, tema, visual identity, sampai VT. Itu proses yang sama, mikirin gimana satu tema atau warna bisa langsung "ngomong" ke penonton tentang program itu. Bahkan sebelum mereka nonton isinya.
Kenapa Ini Penting Buat Kamu Tahu
Kalau lagi bikin konten atau program sendiri, coba tentuin dulu emosi atau kesan apa yang mau disampaikan ke penonton. Baru dari situ turunkan ke pilihan warna, lighting, dan properti. Jangan kebalik, pilih visual dulu baru cari alasannya belakangan.
Karena kalau begitu, warna atau tata artistiknya cuma jadi hiasan, bukan bagian dari cerita yang mau disampaikan. Penonton mungkin gak sadar secara eksplisit, tapi mereka tetap "merasakan" bedanya konten yang dirancang dengan niat dan yang asal jadi. Detail kecil kayak gini yang sering bikin satu karya kerasa lebih matang dari yang lain.
Warna di film atau di program yang kita desain sendiri itu bahasa visual yang jarang disadari penonton, tapi selalu kerasa efeknya. Kalau dipikir-pikir, coba tonton ulang satu adegan favoritmu, dan perhatiin warnanya. Coba tebak, emosi apa yang lagi "dijual" ke kamu lewat warna itu?