Kadang kita gak sadar ada satu pola yang terus berulang, entah kamu nulis naskahnya, dan temen kamu yang selalu jadi eksekutor sekaligus sutradaranya, atau mungkin sebaliknya? Dan gak menutup kemungkinan kamu pegang dua posisi itu. Pola kayak gini biasanya kebentuk sendiri dari kebiasaan kerja bareng, bukan karena sengaja dibagi dari awal.
Menariknya, ada tim yang polanya jalan mulus, naskah cukup dijelasin lewat reading singkat atau bahkan cuma pesan di grup, dan hasil akhirnya udah sesuai sama yang dibayangin. Tapi ada juga tim yang relasinya sama persis, penulis dan sutradara, tapi prosesnya penuh cekcok dari awal sampai editing. Kalau dipikir-pikir, apa sih yang bikin dua tim dengan struktur yang sama bisa ngasih hasil yang jauh berbeda?
Ternyata Ini Bukan Soal Siapa Berkuasa, Tapi Soal Nyambung Gak Visinya
Sutradara dan penulis itu idealnya dua kepala yang menuju satu visi yang sama, bukan soal siapa "menang" ide atau siapa yang lebih berkuasa atas cerita. Ketika komunikasi visi jelas dari awal, eksekusi bisa jadi mulus meski gak banyak instruksi detail. Inilah kenapa ada tim yang cuma butuh penjelasan singkat, tapi hasilnya udah nyambung sama bayangan penulisnya.
Tapi begitu ada dua pemahaman visi yang beda-beda dalam satu tim, di situlah konflik mulai muncul. Bukan karena salah satu pihak gak kompeten, tapi karena arah yang dituju ternyata berbeda sejak awal. Semakin lama perbedaan itu dibiarkan, semakin susah juga disatukan di tengah jalan.
Contohnya Kayak Gini
Kasus yang paling sering kejadian, yaitu naskah udah masuk draft final dan disepakati bareng, tapi di tengah syuting muncul kendala di lapangan yang bikin sebagian tim pengen ngubah arah cerita. Satu pihak bertahan dengan draft yang udah disepakati, pihak lain merasa perlu bikin draft baru saat itu juga. Akibatnya tim terbelah jadi dua pemahaman persis di momen paling kritis, saat kamera udah jalan dan gak semua adegan bisa diulang.
Ada juga kasus yang lebih halus tapi efeknya panjang, misalnya sudut pandang sutradara dan asisten sutradara nyambung, tapi ternyata beda sama penulis naskahnya. Perbedaan kecil ini sering gak kelihatan waktu syuting, tapi baru ketahuan di meja editing, dan editor yang akhirnya kewalahan nyari benang merahnya. Bandingin sama produksi yang arahnya cuma dijelasin lewat gambaran kasar, tapi semua pihak langsung paham maksudnya, lalu di cross check bareng, dan selesai tanpa banyak perdebatan.
Kenapa Ini Penting Buat Kamu Tahu
Sepakati visi cerita di awal, sejelas mungkin baik lewat diskusi panjang atau bahkan cuma pesan singkat, asal semua pihak benar-benar paham arahnya. Yang paling penting hindari mengubah keputusan besar soal naskah di tengah proses syuting. Itu yang bikin tim pecah pemahaman, sampai berdampak ke tahap editing.
Kalau memang harus ada revisi besar, lakukan sebelum syuting dimulai, bukan saat prosesnya sudah berjalan. Semakin awal ketidaksepahaman ditemukan, semakin murah juga biaya buat memperbaikinya, baik dari sisi waktu, tenaga, maupun hubungan dalam tim. Ini berlaku di produksi mana pun, besar atau kecil.
Cerita itu bukan milik satu peran doang, entah sutradara atau penulis. Cerita itu milik bersama, selama visinya sama-sama dipegang erat dari awal sampai akhir produksi. Kalau dipikir-pikir, pernah gak kamu ada di posisi salah paham sama tim soal "ini ceritanya mau ke mana" dan di titik mana miskomunikasi nya mulai muncul?